Jumat, 13 Februari 2015

Tradisi Fenomenologi serta Fenomena Selfie di Masyarakat


      
     

TRADISI FENOMENOLOGI
SERTA
FENOMENA SELFIE DI MASYARAKAT

 






DISUSUN OLEH
NAMA: DEVITA SARI SINAGA (13 853 0002)
SUGIANTO (13 853 0007)
TOGAR PARLINDUNGAN (13 853 0032)
FAK/PRODI : FISIP/ILMU KOMUNIKASI
MATA KULIAH : TEORI KOMUNIKASI LANJUTAN
DOSEN PEMBIMBING : Dra. Hj. NINA SITI S. SIREGAR, MSI
TA : 2014/2015





KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “TRADISI FENOMENOLOGI SERTA FENOMENA SELFIE DI MASYARAKAT”
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis  dan terima kasih kepada Ibu  Dra. Hj. Nina Siti S. Siregar, MSI yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Medan, Januari 2015
         Penyusun




BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG

Tradisi fenomenologi merupakan tradisi yang cukup menarik untuk dibahas , fenome­nologi boleh dikatakan menolak teori. Fenomenologi sedikit alergi teori. Pendekatan ini lebih menekankan rasionalisme dan realitas budaya yang ada. Hal ini sejalan dengan penelitian etnografi yang menitikberatkan pandangan warga setempat. Realitas dipandang lebih penting dan dominan dibanding teori-teori. Fenomenologi menjadikan pengalaman sebenarnya sebagai data  utama dalam memahami realitas. Apa yang dapat diketahui seseorang adalah apa yang dialaminya.
Fenomena yang terjadi saat ini melanda penggemar situs jejaring sosial Instagram ,setahun belakangan ini pasti akrab dengan hashtag bertuliskan selfie bukan hanya penggemar instragaram saja, bahkan penggemar fb dan twitter  mulai dari orang biasa hingga selebriti ternama, semua 'latah' berfoto selfie. Begitu populernya selfie sampai-sampai Kamus Bahasa Inggris Oxford menobatkan kata tersebut sebagai kata yang paling banyak dicari pada November 2013.
Bagi Anda yang belum tahu, selfie merupakan gaya foto yang menampilkan diri sendiri entah itu wajah, seluruh tubuh atau hanya bagian tertentu dari tubuh. Foto selfie ini dilakukan oleh diri sendiri tanpa meminta bantuan orang lain untuk memotret Anda. Saat melakukannya, si pelaku selfie akan memegang ponsel berkamera atau kamera dengan salah satu tangannya dan mengarahkan lensa ke bagian yang ingin difoto.
B.     Rumusan masalah
Dari latar belakang di atas kami, rumusan masalah yang ingin kami paparkan di dalam makalah ini sebagai berikiu:
1.      Pengertian Tradisi Fenomenologi dan Perspektif Fenomenologi
2.      Asal mula Selfie
3.      Perkembangan Selfie
4.      Akibat dari Selfie

C.    Tujuan penulisan makalah
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah “ Teori Komunikasi lanjutan, selain itu makalah ini juga memberikan pengetahuan kepada mahasiswa/masyarakat tentang tradisi fenomenologi dan fenomena selfie di masyarakat.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    FENOMENOLOGI
Tradisi fenomenologi memfokuskan perhatianya terhadap pengalaman sadar seorang individu. Teori komunikasi yang masuk dalam tradisi fenomenologi berpandangan bahwa manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka, sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau pengalaman indivvidu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar daripada hipotesa penelitian sekalipun.
              Kata fenomenologi berasal dari kata phenomenon yang berarti kemunculan suatu objek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi seorang individu. Fenomenologi menggunakan pengalaman secara langsung untuk memahami dunia. Orang mengetahui pengalaman atau peristiwa dengan cara mengujinya secara sadar melalui perasaan dan persepsi yang dimiliki orang yang bersangkutan
Fenomenologi menjadikan pengalaman sebenarnya sebagai data  utama dalam memahami realitas. Apa yang dapat diketahui seseorang adalah apa yang dialaminya. Stanley Deets menemukakan tiga prinsip dasar fenomenolgi :
1.      Pengetahuan adalah kesadaran
Pengetahuan tidak disimpulkan dari pengalaman namun ditemukan langsung dari pengalaman sadar.
2.      Makna dari sesuatu terdiri atas potensi sesuatu itu pada hidup seseorang
              Dengan kata lain, bagaimana anda memandang suatu objek bergantung pada maknaobjek itu bagi anda.
3.      Bahasa adalah “kendaraan makna”
Kita mendapatkan pengalaman melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan menjelaskan dunia kita.
Proses interprestasi merupakan hal yang sangat penting dan sentral dalam fenomenologi. Interprstasi adalah proses aktif pemberian makna dari suatu pengalaman. Pada tradisi semiotika, Interpretasi merupkan hal yang terpisah dari realis, namun dalam fenomenologi, interpretasi merupakan realis bagi seorang individu. Anda tidak akan dapat memisahkan realis dari interpretasi. Interpretasi adalah proses aktif dalam pikiran, yaitu suatu tindakan kreatif dalam memperjelas pengalam personal seseorang. Menurut pemikiran fenomenologi orang yang melakukan interpretasi , mengalami suatu peristiwa atau situasi dan ia akan memberikan makna kepada setiap peristiwa atau situasi yang dialaminya.
            Kondisi ini akan berlangsung terus menerus (bolak-balik) antara pengalaman dan pemberian makna. Setiap pengalam baru akan memberikan pengalaman baru baginya. Kita ambil contoh ketika seseorang pernah di gigit se ekor kucing ketika kecil, pengalam tersebut memberikan makna bahwa kucing itu jahat dan menyeramkan. Tetapi perlahan makna itu akan berubah ketika dia beranjak dewasa dikarenkan dia diberi oleh oleh orang tuanya kucing yang lucu dan menggemaskan. Interprestasi itu akan terus berubah sepanjang hidupnya seiring dengan setiap pengalaman yang ditemuinya.
Perspektif Fenomenologi
Jika positivisme amat gila terhadap penyusunan teori, fenome­nologi boleh dikatakan menolak teori. Fenomenologi sedikit alergi teori. Pendekatan ini lebih menekankan rasionalisme dan realitas budaya yang ada. Hal ini sejalan dengan penelitian etnografi yang menitikberatkan pandangan warga setempat. Realitas dipandang lebih penting dan dominan dibanding teori-teori melulu.
Fenomenologi berusaha memahami budaya lewat pandangan pemilik budaya atau pelakunya. Menurut paham fenomenologi, ilmu bukanlah values free, bebas nilai dari apa pun, melainkan values bound, memiliki hubungan dengan nilai. Aksioma dasar fenomenologi adalah:
(a) kenyataan ada dalam diri manusia baik sebagai indiividu maupun kelompok selalu bersifat majemuk atau ganda yang tersusun secara kompleks, dengan demikian hanya bisa diteliti secara holistik dan tidak terlepas-lepas; (b) hubungan antara peneliti dan subyek inkuiri saling mempengaruhi, keduanya sulit dipisahkan; (c) lebih ke arah pada kasus-kasus, bukan untuk menggeneralisasi hasil penelitian; (d) sulit membedakan sebab dan akibat, karena situasi berlangsung secara simultan; (e) inkuiri terikat nilai, bukan values free.
Dalam pandangan Natanton (Mulyana, 2002:59) fenomenologi merupakan istilah generik yang merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial yang menganggap bahwa kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial. Tentu saja, dalam kaitannya dengan penelitian budaya pun pandangan subjektif informan sangat diperlukan. Subjektif akan menjadi sahih apabila ada proses intersubjektif antara peneliti budaya dengan informan.
Wawasan utama fenomenologi adalah “pengertian dan penje­lasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri” (Aminuddin, 1990:108). Dalam perkembangannya, fenomenologi memang ada beberapa macam, antara lain: (a) fenomenologi Edidetik dalam linguistik, (b) fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberada­an, penggambaran gejala (refleksi), (c) fenomenologi transendental, dan (d) fenomenologi eksistnsial.
Bagi fenomenologi transendental, keberadaan realitas sebagai “objek” secara tegas ditekankan. Kesa­daran aktif dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu gejala amat penting. Bagi fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran.
Dalam penelitian budaya, perkembangan pendekatan fenomeno­logi tidak dipengaruhi secara langsung oleh filsafat fenomenologi, tetapi oleh perkembangan dalam pendefinisian konsep kebudayaan. Dalam hal ini, fenomenolog Edmun Husserl (Muhadjir, 1998:12-13) menyatakan bahwa obyek ilmu itu tidak terbatas pada yang empirik (sensual), melainkan mencakup fenomena yang tidak lain terdiri dari persepsi, pemikiran, kemauan, dan keyakinan subyek yang menuntut pendekatan holistik, mendudukkan obyek penelitian dalam suatu kontsruksi ganda, melihat obyeknya dalam suatu konteks natural, dan bukan parsial. Karena itu dalam fenomenologi lebih menggunakan tata pikir logik daripada sekedar linier kausal.
Tujuan penelitian fenomenologi budaya adalah ke arah membangun ilmu ideografik budaya itu sendiri.
Metode kualitatif fenomenologi berlandaskan pada empat kebenaran, yaitu kebenaran empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik etik, dan kebenaran empirik transenden. Atas dasar cara mencapai kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan antara subyek peneliti dengan pendukung obyek penelitian.
Keter­libatan subyek peneliti di lapangan dan penghayatan fenomena yang dialami menjadi salah satu ciri utama. Hal tersebut juga seperti dikatakan Moleong (1988:7-8) bahwa pendekatan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu.
Peneliti fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti menge­tahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti. Maka dari itu, inkuiri dimulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang diteliti. Yang ditekankan adalah aspek subyek dari perilaku orang.
Mereka berusaha untuk masuk ke dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari­hari. Makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikam pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa penger­tian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan. Yang ditekankan oleh kaum fenomenologis ialah aspek subyek­tif dari perilaku budaya. Mereka berusaha masuk ke dalam dunia subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga peneliti mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian dikembangkan dalam hidup sehari-hari. Subyek penelitian dipercaya memiliki kemampuan untuk menafsirkan pengalamannya melalui interaksi. Peneliti fenomenologis tidak menggarap data secara mentah. Peneliti cukup arif dengan cara memberikan “tekanan” pada subyek untuk memaknai tindak buda­yanya, tanpa mengabaikan realitas.
Hal tersebut dapat dipahami, karena menurut Phillipson (Walsh,1972:121) istilah fenomena itu berkaitan dengan suatu persepsi yaitu kesadaran. Fenomenologi akan berupaya menggambarkan fenomena kesadaran dan bagaimana fenomena itu tersusun. Dengan adanya kesadaran ini, tidak mengherankan jika pemerhati kebudayaan dan pelaku budaya juga memiliki kesadaran tertentu terhadap yang mereka alami. Pengalaman yang dipengaruhi oleh kesadaran itu, pada saatnya akan memunculkan permasalahan baru dan di antaranya akan terkait dengan ihwal seluk beluk kebudayaan itu sendiri.
Akibat dari tumbuh kembangnya kesadaran tersebut, bukan tidak mungkin jika para ahli peneliti budaya fenomenologi mulai dihadapkan pada sejumlah permasalahan kebudayaan. Pada dasarnya, ada tiga permasalahan pokok ketika orang akan melukiskan kebudaya­an yaitu: (1) mengenai ketidaksamaan data etnografi yang disebabkan oleh perbedaan minat di kalangan ahli peneliti budaya, (2) masalah sifat data itu sendiri, artinya seberapa jauh data tersebut dapat diperbandingkan atau seberapa jauh data tersebut benar-benar dapat melukiskan gejala yang sama dari masyarakat yang berbeda, dan (3) menyangkut masalah klasifikasi data yang di antara para ahli masih sering berbeda kriterianya.
Berdasarkan ketiga hal itu, dalam studi fenomenologi terutama sebagai upaya memahami sugesti Malinovski tentang “to grasp the native’s point of view, his relation to life to realize his vision of his world”, Ahimsa-Putra (1985:106-109) menawarkan pendekatan etno­sains sebagai salah satu alternatif.
Pendekatan ini dipandang lebih fenomenologis karena dengan menerapkan model linguistik yang dikenal dengan pelukisan kebudayaan secara etik dan emik, pemak­naan kebudayaan menjadi lebih lengkap. Dengan cara ini ini pendefi­nisian kebudayaan merupakan akumulasi dari sistem pengetahuan atau sistem ide, dalam istilah “makna” yang diberikan oleh pendukung kebudayaan pun turut diperhitungkan.
Implikasi dari pendekatan tersebut, penelitian budaya secara fenomenologi dapat digolongkan menjadi tiga yakni: Pertama budaya dipelajari oleh mereka yang berpendapat bahwa kebudayaan meru­pakan “forms of things that people have mind”, yang dalam hal ini ditafsirkan sebagai model-model untuk mengklasifikasikan lingkungan atau situasi sosial yang dihadapi.
Kedua, mereka yang mengarahkan perhatiannya pada bidang rule atau aturan-aturan. Mereka berpijak pada definisi pertama yaitu kebudayaan sebagai hal yang harus diketahui seseorang agar dapat mewujudkan tingkah laku (bertindak) menurut cara yang dapat diterima oleh warga masyarakat itu berada. Persoalan ketegorisasi masih diperhatikan, khususnya kategorisasi sosial yaitu untuk mengkategorisasikan interaksi sosial.
Tujuan utamanya adalah menca­ri prinsip klasifikasi, seperti halnya klasifikasi dalam undha usuk bahasa Jawa, yaitu kowe, sapeyan, panjenengan.
Ketiga, ahli peneliti budaya masih menggunakan definisi yang kedua, yaitu kebudayaan sebagai alat atau sarana yang dipakai untuk “perceiving” dan “dealing with circumstances”, yang berarti alat untuk menafsirkan berbagai macam gejala yang ditemui. Dalam hal ini, para ahli peneliti budaya beranggapan bahwa tindakan manusia mempunyai berbagai macam makna bagi pelakunya serta bagi orang lain. Untuk menjelaskan tingkah laku manusia makna tersebut harus diungkapkan. Tanpa memperhitungkankan makna ini maka peneliti tidak akan mampu mengungkap hakikat manusia yang sebenarnya. Penekanan si peneliti kemudian mencari tema budaya.
Dari kaca pandang fenomenologis yang dipengaruhi oleh pendefinisian kebudayaan itu, pada gilirannya kebudayaan menjadi lebih kompleks. Kebudayaan menjadi sangat `tergantung’ siapa yang memandang. Jika warga setempat paham terhadap yang mereka lakukan, tentu pendefinisian akan berlainan dengan warga yang samar-samar terhadap budayanya. Kedua pandangan yang berbeda ini pun dalam perspektif fenomenologi harus tetap dihargai. Oleh karena perbedaan pendapat adalah khasanah fenomena budaya itu sendiri.
Kehadiran Jackson (1996) dalam fenomenologi telah mengha­silkan arahan-arahan baru dalam penelitian budaya secara etnografi. Arahan-arahan tersebut oleh Jackson ditunjukkan secara samar, berupa kritik dari sisi peneliti budaya terhadap pendekatan fenome­nologi. la dengan tajam mengritik pandangan empirisme radikal William James, naturalis John Dewey, dan fenomenolog Marleau­Pcenty. Dari ulasannya, akan ditemukan beberapa arahan baru bidang kajian peneliti budaya fenomenologi dan penulisan etnografinya.
Dalam pengkajian dapat dikemukakan arahan baru fenomeno­logi bagi penelitian budaya sebagai berikut: Pertama, adanya kajian terhadap penyakit. Kajian ini lebih menekankan fenomena yang ditunjukkan oleh pasien daripada yang dikonsepsikan oleh ilmu kesehatan. Hal ini berarti bahwa kajian yang dilakukan telah ke arah fenomenologi karena telah mempertimbangkan perilaku dan makna yang ditunjukkan pasien sebagai subjek penelitian.
Dalam kaitan ini, Arthur Kleinman menggunakan istilah “dunia moral lokal” untuk menunjukkan latar belakang ekonomi, sosial, dan politik dalam kait­annya dengan penyakit pasien. Latar belakang ini selanjutnya dihu­bungkan dengan pengalaman pasien sehingga akan terpahami realita moral khusus yang ada di dalamnya. Pengkajian lebih jauh lagi juga dikaitkan dengan latar belakang budaya pasien. Pandangan semacam inilah yang `mungkin’ dikenal dengan peneliti budaya kesehatan.
Kedua, adanya kajian peneliti budaya fenomenologi yang tetap memperhatikan “dunia moral lokal” terhadap masalah “ekologi”. Seperti halnya ditunjukkan oleh Sartre, seorang eksistensialis yang mulai menekankan pengkajian terhadap masalah situasi dan lingkung­an. Situasi dan lingkungan adalah bagian dari hidup manusia yang akan membentuk dan dibentuk oleh budaya setempat dan atau oleh budaya lain. Pandangan terhadap manusia yang mulai sadar terhadap situasi dan lingkungan ini, pada gilirannya menjadi perhatian ekologi budaya yang pernah dicetuskan oleh Julian Steward (Bennett, 1971:24).
Hal serupa sebagaimana pernah dilakukan penelitian oleh Rene Davisch terhadap pelaku pemujaan suku Yaka di Zaire. la berhasil mengungkap bagaimana kiasan merupakan jaringan hubung­an dunia kehidupan. Bagi orang Yaka, lingkaran kehidupan menurut kiasannya dipadukan dengan irama musim dan matahari. Pengkajian semacam ini, dapat mengaitkan hubungan ekologis dengan faktor kultural setempat. Peneliti tentunya akan mengaitkan pandangan masyarakat lokal sebagai akumulasi interaksi di antara mereka.
Permasalahan semacam ini, diakui atau tidak lalu menarik perhatian para ahli peneliti budaya yang menekankan pada budaya ekologi. Misalkan, manusia (peneliti) mulai sadar mengapa masyarakat tertentu ada yang memanfaatkan limbah menjadi hal yang istimewa.
Ketiga, arahan baru terhadap pengkajian peneliti budaya fisik. Sebagaimana ditunjukkan oleh Merleau-Ponty bahwa subyektivitas adalah merupakan kehidupan fisik di dunia, bahkan sikap simpati dan empati merupakan sifat dasar kehidupan fisik pula: Karena itu pemahaman fenomenologi perlu mendasarkan kehidupan fisik ini karena fisik merupakan aspek primordial dari subyektivitas manusia sebagai makhluk sosial.
Keempat, arahan baru terhadap penelitian historiografi, yaitu memandang fenomena dalam kaitannya kehidupan dan sejarah. Hal ini seperti dicontohkan Jackson, yaitu penelitian terhadap sejarah petani di India.
Dalam bidang penulisan etnografi, dapat diketengahkan arahan baru fenomenologis sebagai berikut: Pertama, arahan-arahan baru dalam penulisan etnografi. Seperti halnya yang diungkapkan Abu Lughod, etnografer dapat menyusun kesadaran `subyektivitas’ yang selanjutnya diarahkan pada penulisan biografi individu. Etnografi individu ini digambarkan melalui ceritera seorang individu tentang keunikan kehidupannya.
Arahan baru dalam penulisan etnografi secara `naratif. Sebagaimana ditunjukkan Jurgen Hubermas bahwa dunia kehidupan sehari-hari adalah dunia wacana, permainan bahasa, dan aktivitas komunikasi. Kenyataan ini sarat dengan penulisan ceritera naratif yang disertai dialog-dialog hidup. Kemungkinan besar etnografi semacam ini akan lahir seperti halnya novel.
Dari arah-arahan baru fenomenologi tersebut, penelitian budaya semakin menunjukkan kecerahan. Penelitian budaya dapat memanfa­atkan- pendekatan fenomenologis, terutama untuk model penelitian etnografi. Dari pendekatan tersebut peneliti budaya akan mampu menampilkan realitas dan keaslian budaya yang diteliti. Campur tangan peneliti terhadap konsep-konsep budaya akan relatif kecil, sehingga ilmu budaya pada gilirannya akan semakin berkembang. Dalam penjelasan Phillipson (Walsh, 1972:135-137) tampak bahwa ada dua paham metodologi fenomenologi, pertama fenome­nologi yang berusaha untuk menjelaskan bagaimana fenomena itu tersusun. Kedua, fenomenologi yang berusaha memahami fenomena sebagai obyek kesadaran.
Ketika fenomenologi mulai menjelaskan bagaimana fenomena itu tersusun, ini berarti masih fenomenologi murni. Secara alamiah peneliti budaya akan menanyakan persepsi subyek budaya terhadap apa yang dialaminya. Dari interaksi subyek budaya itu, baik kesadaran subyek sebagai kesadaran makna dan fungsi dari suatu fenomena itu merupakan tonggak terjadinya penaf­siran.
Dari paham kedua tersebut tampak bahwa dalam fenomenologi pun telah terjadi penafsiran terhadap fenomena: Fenomena budaya tidak lagi dijelaskan sebagaimana adanya, melainkan telah melalui penafsiran. Baik penafsiran yang dilakukan oleh partisipan maupun peneliti ketika memberikan umpan balik, tetap telah terjadi sebuah pemahaman.
Dalam kaitan ini, kesadaran partisipan maupun peneliti telah bermain di dalamnya, sehingga memungkinkan terjadinya pema­haman yang lebih baik. Terlebih lagi Goodenough (Geertz (1980:13) menyatakan bahwa kebudayaan (ditempatkan) dalam pikiran-pikiran dan hati manusia. Pemikiran dan hati ini hanya akan dapat nampak dalam suatu tindakan. Tindakan inilah yang dapat dilihat sebagai fenomena yang jelas. Pada saat peneliti dan partisipan berhadapan dengan tindakan mau tidak. mau harus memahaminya. Inilah yang kelak akan berkembang ke arah tumbuhnya tafsir kebudayaan.
Tradisi Fenomenologi terbagi atas tiga:
1.      Fenomenologi Klasik
Edmund Husrel adlah salah satu pemikir fenomenologi klasik. Husserl melalui buku yang ditulis pada abad ke-20, berupaya mengembangkan suatu metode untuk menemukan kebenaran melalui pengalaman langsung. Menurutnya orang harus berdisiplin dalam menerima pengalaman itu. Dengan kata lain, pengalaman sadar individu adalah jalan yang tepat untuk menemukan realitas. Hanya melalui “perhatian sadar” kebenaran dapat kita ketahui. Untuk dapat melakukan hal itu kita harus menyingkirkan bias yang ada pada diri kita. Kita harus meninggalkan berbagai kategori berpikir dan kebiasaan kita melihat sesuatu agar dapat merasakan pengalaman sebagaimana apa adanya. Melaui cara ini, berbagai objek di dunia dapat hadir ke dalam kesadaran kita.
Pandangan Husrel ini dinilai sangat objektif karena pandangan ini menyatakan bahwa dunia dapat dirasakan atau dialami tanpa harus membawa serta bebagai kategori yang dimiliki orang yang ingin mengetahui pengalaman itu, karena hal itu dapat memepengaruhi proses merasakan pengalaman itu.
2.      Fenomenologi Persepsi
Tokoh penting dalam tradisi ini adalah Maurice  Merleau-Ponty yang pandanganya dianggap mewakili gagasan mengenai fenomenologi persepsi  yang dinilai sebagi penolakan terhadapa pandangan objektif namaun sempit dari Husrel. Menurut Ponty, manusia ialah mahluk yang memiliki kesatuan fisik dan mental yang menciptakan  makna terhadap dunianya. Kita mengetahui sesuatu hanya melalui hubungan pibadi kita dengan sesuatu itu. Sebagai manusia kita dipengaruhi oleh dunia luar atau lingkungan kita, namun sebaliknya kita juga mempengaruhi dunia di sekitar kita melalui bagaimana kita mengalami dunia. Menurut Ponty sesuatu itu ada karena diketahui atau dikenali. Dengan demikian, suatu objek atau peristiwa itu ada dalam suatu objek atau peristiwa ada dalam suatu proses timbale balik yaitu hubungan diologis dimana suatu objek atau peristiwa mempengaruhi objek atau peristiwa lainya.


3.      Fenomenologi Hermenetik
Tokoh dibidang ini adalah Martin Heidegger yang dikenal dengan karyanya philosophical hermeneutics. Hal paling penting bagi Heidegger adalah “pengalaman alami yang terjadi begitu saja ketika orang hidup di dunia. Bagi Heidegger , realitas terhadap sesuatu tidak dapat diketahui hanya melalui penggunaan bahasa dalam kehidupan setiap hari. Apa yang alami adalah apa yang dialami bahasa dalam konteks “its is in words and language that first come into being and are”  (dalam kata-kata dan bahasalah sesuatu itu terwujud pertama kali dan ada)
Komunikasi adalah kendaraan yang digunakan untuk menunjukan makna dari penaeahuan yang diterima atau drrasakan. Pemikiran adalah hasil dari bicara karena makna itu sendiri tercipta dari kata-kata. Ketika Anda berkomunikasi maka Anda tengah mencoba cara baru dalam melihat dunia. Kita mendengarkan kata-kata yang diucapkan seseorang setiap hari yang pada  akhirnya mempengaruhi kita secara terus-menerus terhadap setiap peristiwa dan situasi yang kita hadapi. Dengan demikian pandangan ini yang berupaya menghubungkan pengalaman dengan bahasa dan interaksi sosial menjadi relavab dengan disiplin ilmu komunikasi.
B.     Asal Mula Foto Selfie
Selfie adalah sebuah jenis self-portrait foto, dimana biasanya diambil dengan kamera digital genggam atau kamera ponsel. Selfies juga sering dikaitkan dengan jejaring sosial, seperti Instagram. Orang-orang biasanya melakukan foto Selfie dengan cara menggunakan kamera yang dipegang dengan lengan panjang atau di hadapan cermin. Foto selfie biasanya juga menggukan ekpresi yang berlebihan di hadapan camera.
Awal Mula foto Selfie ditemukan oleh Robert Cornelius yang merupakan seorang berkebangsaan Amerika yang juga seorang perintis dalam dunia fotografi. Dia membuat sebuah ekspresi dirinya sendiri pada tahun 1839 dimana ini merupakan salah satu dari foto seseorang yang pertama kali. Lalu karena proses fotonya lambat, kemudian dia mengungkap lensa yang mengalami tembakan selama satu menit atau lebih. Kemudian dia mengganti penutup lensa.
Debut pertama Portabel kotak kamera Kodak Brownie dimulai pada tahun 1900 yang menyebabkan teknik fotografi diri sendiri menjadi lebih luas . Kemudian metode ini biasanya media cermin untuk menstabilkan kamera baik pada objek dekat atau pada tripod saat framing melalui viewfinder di bagian atas kotak.
Seorang wanita berkebangsaan Rusia bernama Anastasia Nikolaevna merupakan salah satu remaja pertama yang mengambil foto dirinya sendiri dengan menggunakan cermin untuk dikirim ke temannya pada tahun 1914 di saat usianya baru 13 tahun. Kemudian di dalam surat yang menyertai fotonya itu, dia mengatakan "Saya mengambil gambar diriku sendiri dengan melihat cermin. Hal itu sangat mengagetkan dimana tangan saya gemetar."
Sebuah konsep meng-upload foto diri sendiri ( sekarang dikenal sebagai super selfies ) ke internet, meski dengan kamera sekali pakai (bukan smartphone), ke halaman Web pertama kali diciptakan oleh Australia pada September 2001, termasuk foto yang diambil di akhir 1990-an ( ditangkap oleh Internet Archive pada bulan April 2004 ) . Kemudian penggunaan awal Selfie dapat ditelusuri pada tahun 2002.  Dann ini pertama kalinya muncul di sebuah forum internet Australia ( ABC online ) pada tanggal 13 September 2002.
C.    Perkembangan Foto Selfie
Istilah " Selfie " dibahas oleh seorang fotografer bernama Jim Krause pada tahun 2005, walaupun foto bergenre Selfie sudah meluas mendahului istilahnya. Kemudian pada awal tahun 2000-an, sebelum Facebook menjadi jaringan sosial online yang dominan, foto diri sendiri sering terjadi di MySpace . Tapi seorang penulis bernama Kate Losse menceritakan bahwa antara tahun 2006 dan 2009 ( ketika Facebook menjadi lebih populer daripada MySpace ) foto diri sendiri sering diambil di depan cermin kamar mandi. Dan ini menjadi indikasi buruk bagi pengguna jejaring sosial Facebook baru.
Lalu pada tahun 2009 dalam gambar hosting dan hosting video situs Flickr, pengguna Flickr menggunakan ' selfies ' untuk menggambarkan bentuk foto dirinya sendiri yang diposting oleh kebanyakan gadis-gadis remaja.
Selfies kemudian menjadi populer di berbagai tempat dari waktu ke waktu. Pada akhir tahun 2012 majalah Time membuat Selfie menjadi salah satu "top 10 buzzwords". Menurut survei tahun 2013, dua pertiga dari wanita Australia berusia 18-35 tahun, berfoto selfies dengan tujuan yang paling umum untuk posting di akun Facebook.
Lalu pada tahun 2013, kata " Selfie " telah menjadi hal yang biasa untuk dipantau dan dimasukkan dalam online Oxford English Dictionary. Pada bulan November 2013, kata " Selfie " diumumkan sebagai "Word Of The Year" oleh Oxford English Dictionary, diman kata tersebut berasal dari Australia
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi diabad modern ini tidak dipungkiri memiliki berbagai macam pengaruh terhadap kehidupan manusia, terlebih yang hidup dikota-kota besar. Berbagai macam pengaruh itu, baik yang positif maupun negatif hampir menjadi hal lumrah dalam keseharian, terlebih jika itu sudah menjadi fenomena dan gaya hidup.
Salah satu pengaruh dari perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang sedang menjadi fenomena adalah selfie. Begitu banyak orang yang tak mau ketinggalan melakukan hal yang satu ini, dan kini seolah menjadi “rutinitas” bagi sebagian orang tanpa mengenal batasan usia, status, pekerjaan dan lainnya. Entah berapa ribu atau bahkan juta foto selfie yang diunggah keberbagai jejaring sosial ataupun aplikasi smartphone setiap harinya. Itu menunjukkan bahwa fenomena selfie kini telah menjadi hal “wajib”, terutama untuk mereka yang narsis.
Dari kacamata psikologi, fenomena selfie dianggap psikologi konsumen dari adanya supply dan demand. Seperti pernyataan dari Psikolog Kasandra Putranto jika selfie merupakan hal supply dan demand. Demand ketika ada seorang yang ingin menampilkan gambar dirinya sendiri sedangkan itu didukung dengan adanya (supply) kecanggihan dari gadget masa kini. Sedangkan menurut Prof. Sherry Turkle dari Massachusetts Institute of Technology, selfi adalah seperti foto pada umumnya yang berfungsi untuk mengabadikan sebuat momen yang kemudian diperlihatkan pada orang lain.
Pengalaman Prof. Turkle dalam memperlajari hubungan antara manusia dengan mobile technology selama 15 tahun menyimpulkan bahwa orang-orang tidak lagi merasa menjadi dirinya sendiri tanpa berbagi pemikiran dan perasaan, sekalipun hal itu belum jelas bagi mereka sendiri. Ia pun mengatakan selfie mengakibatkan banyak orang mengabaikan hal yang sedang terjadi disekitarnya karena lebih mementingkan mendokumentasikan momen tersebut tanpa ingin melewatkannya.
Melihat dari sudut pandang psikologi tentang selfie dan akibatnya, rasa-rasanya sangat nyata hal-hal tersebut terjadi dikehidupan sehari-hari. Lihat saja kecanggihan gadget saat ini, begitu sangat mendukung seseorang untuk ber-selfie-ria. Terlebih dengan aksesoris pendukungnya, orang-orang sebelumnya pemalu pun kini seolah tertarik untuk selfie. Pun begitu dengan berbagai macam akibat dari selfie, baik itu yang postitif, mengejutkan sampai yang negatif sudah banyak terjadi.
D.    Akibat dari Foto Selfie
Akibat dari selfie yang dimuat dibeberapa berita terutama media online memang cukup mengejutkan. Tidak disangka selfie yang terlihat sepele tapi dapat membawa banyak hal yang serius. Diantara beberapa akibat selfie yang membawa akibat serius diantaranya seperti yang terjadi pada Susann Stacy yang selamat dari siksaan suaminya karena memposting photo wajahnya yang berlumuran darah ke facebook.
Wanita Amerika Serikat yang tinggal di Kentucky tersebut mengaku dipukuli suaminya lalu dikurung. Ia pun tidak bisa meminta pertolongan, namun beruntung ia menemukan sinyal WiFi lalu memoto wajahnya yang berlumuran darah dan diunggah ke facebook dengan dituliskan “help please, anyone”. Salah satu temannya yang melihat hal tersebut langsung menghubungi polisi dan Susaan pun dapat diselamatkan.
Jika Susann dapat selamat karena selfie-nya, lain lagi dengan beberapa orang ini. Mereka harus meregang nyawa akibat keasyikan melakukan selfie. Seperti seorang siswi dari Rizal High School, Pasig City, Filipina yang tewas terjatuh dari tangga sekolahnya saat ber-selfie dijam istirahat. Menurut keterangan dari Inspektur Senior Kepolisian Pasig City, Mario Razisa mengatakan, korban dan seorang temannya asyik ber-selfie dengan berbagai macam gaya termasuk ditangga sekolahnya. Diduga korban kehilangan keseimbangan dan terjatuh hingga mengakibatkan luka parah, memar, patah tulang rusuk hingga mengenai ginjalnya. Nyawa siswi malang tersebut pun tidak dapat diselamatkan. Masyarakat Filipina memang sangat menggandrungi selfie. Bahkan majalah Time pernah menjuluki Pasig City dan Makati di Filipina sebagai “kota paling selfie didunia” karena banyaknya foto selfie yang diunggah dari dua kota tersebut.
Kehilangan nyawa karena selfie juga menimpa pada seorang remaja 21 tahun di Meksiko. Oscar Otero Aguilar, remaja yang saat itu sedang minum miras bersama teman-temannya melakukan selfie dengan sebuh pistol. Pistol yang ternyata berisi peluru tiba-tiba menembak dirinya sendiri saat berpose dengan menodongkan pistol kearah dirinya sendiri.
Akibat lain dari selfie yang cukup tidak diduga adalah tertangkapnya seorang pencuri. Kamera cctv milik Mortie’s Boutique di West Frankfort, Illinois merekam tindak pencurian beberapa baju oleh seorang perempuan. Setelah kejadian tersebut pemilik butik membuat postingan beberapa gambar dan tulisan tentang pencurian tersebut di facebook. Lalu dia mendapat informasi tentang salah satu gaun yang dicuri dengan bukti foto selfie seorang perempuan menggunakan gaun tersebut. Ia pun melaporkan akun tersebut kepada polisi, dan polisi berhasil menangkap pemilik akun yang diketahui bernama Saxton dengan barang curiannya senilai kurang dari USD 300.
Hal tersebut bukanlah yang pertama. Sebelumnya, Depree Johnson berusia 19 tahun ditangkap setelah memposting foto dirinya bersama senjata api, uang curian dan obat-obat pada Desember 2013.
Selain beberapa contoh akibat selfie diatas, ada pula akibat selfie yang dianggap cukup aneh atau berlebihan. Seperti yang dilakukan oleh Triana Lavey 38 tahun. Wanita Los Angeles, AS ini rela merogoh kocek hingga USD 15.000 atau setara dengan RP 174.000.000 untuk berbagai implan oprasi plastik pada wajahnya agar mendapatkan hasil selfie idamannya. Memang keinginan tampil sempurna saat selfie seperti menjadi keharusan. Dapat dilihat dengan menjamurnya berbagai aplikasi untuk meng-edit foto agar terlihat indah. Camera 360 salah satunya dan yang paling banyak digandrungi pecinta selfie saat ini.
Apapun alasanya, beberapa akibat selfie yang “memaksa” beberapa orang mendapatkan hal negatif bahkan tidak inginkan, ataupun melakukan berbagai hal yang sebenarnya tidak perlu menunjukkan gejala psikologis yang tidak sehat dari para pelakunya. Bahkan Asosiasi Psikiater Amerika sempat mengeluarkan pernyataan jika keinginan yang kuat untuk tampil sempurna dalam selfie dan para selfitis (keranjingan selfie) adalah bagian dari gangguan kejiwaan.
Kejadian konyol gara-gara foto selfie juga terjadi di Inggris. Seorang remaja tanggung yang bernama Danny Bowman merasa depresi lantaran tidak bisa mendapatkan pose selfie yang menurutnya bagus. Akibat depresinya, ia bahkan telah kehilangan segalanya bahkan pernah mencoba bunuh diri.
Danny Bowman, remaja Inggris yang berusia 19 tahun ini, memang sangat terobsesi dengan foto selfie. Tak mengherankan kalau remaja yang tinggal di Newcastle itu sering menghabiskan waktunya untuk nyelfie alias mengambil gambar selfie dengan menggunakan ponsel iPhone miliknya, ia menghabiskan waktu 10 jam sehari hanya untuk mengambil foto diri dalam berbagai pose, dan telah menghasilkan lebih dari 200 foto selfie.
Dari ratusan foto dalam berbagai pose selfie itu, tidak ada satu pun yang dianggapnya bagus. Akhirnya, Danny mulai frustrasi dan lebih sering mengurung diri di rumah, tanpa sekalipun mau keluar entah untuk bermain atau sekolah. Akibatnya, berat badan Danny turun 13 kilogram, dan yang lebih buruk lagi, ia dikeluarkan dari sekolah dan juga kehilangan banyak teman. Karena putus asa dan merasa gagal, ia pernah mencoba untuk bunuh diri dengan minum obat-obatan hingga overdosis. Beruntung sang ibu, Penny, menemukan dan membawanya ke rumah sakit.
Kesukaan Danny dengan foto selife sebenarnya dimulai sejak ia masih berusia 15 tahun. Ia mulai memposting foto-foto selfienya dalam profil Facebook, dan mulai kecanduan selfie setelah impiannya menjadi seorang model buyar ketika dia ditolak dalam sebuah sesi casting atau audisi model pada tahun 2011. Seperti dilansir The Mirror (24/3), Danny mengakui kalau ia akan mengambil foto selfie dalam kesempatan apa pun. Bahkan ia akan mengambil 10 foto selfie sebelum cuci muka, 10 foto setelah mandi dan 10 foto setelah berdandan.
Selfie bisa jadi ajang narsis untuk beberapa orang. Tetapi, bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) body dysmorphic disorder, selfie bisa jadi media mereka untuk 'mengevaluasi' penampilannya. Jika tak puas dengan penampilannya, mereka bisa saja depresi sampai bunuh diri. "Selfie bisa jadi media bagi orang untuk melihat penampilannya. Dampaknya, si orang ini bisa merasa dia jelek atau tidak sehat hingga timbul suatu kekecewaan dan memicu gangguan jiwa misalnya body dysmorphic disorder.
Menurut dr Danardi, jika hanya karena selfie seseorang merasa kecewa dengan fisiknya hingga ingin bunuh terdapat dua sebab yakni depresi dan merasa kehilangan masa depan atau ada halusinasi bisikan baiknya bunuh diri. dr Danardi menegaskan terlalu fokus pada kesempurnaan fisik memang bisa menimbulkan gangguan body dysmorphic disorder yakni tidak pernah merasa puas dengan dirinya sendiri. "Orang ini merasa tubuhnya tidak sempurna, bisa dikatakan hampir memiliki delusi bahwa matanya kurang simetris, pipinya kurang berisi, sehingga muncul perasaan tidak pernah puas, kecewa, dan minder.
Selain itu, pada orang dengan BDD mereka akan rela melakukan berbagai bentuk operasi plastik untuk menyempurnakan penampilannya. Seperti yang terjadi pada Danny Bowman (19) asal Newcastle. Ia akan menghabiskan waktu sepuluh jam untuk mengambil sampai 200 foto di iPhone-nya.
Selama enam bulan ia tak pernah meninggalkan rumah, putus sekolah, dan menurunkan bobot sampai 12 kg demi terlihat lebih menarik di kamera. Hingga suatu hari, karena terlalu frustasi gagal mendapat foto selfie yang sempurna, Danny nekat menenggak obat yang membuatnya overdosis. Sampai saat ini, penyebab BDD memang belum diketahui pasti. Tetapi, beberapa ilmuwan mengatakan gangguan mental ini berhubungan dengan masalah pada ukuran dan fungsi salah satu area otak yang berkaitan dengan penghargaan tubuh. Untuk menangani gangguan ini, bisa dilakukan pemberian obat atau psikoterapi berupa terapi kognitif terkait pemikiran si pasien tentang dirinya, juga terapi perilaku.



BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Tradisi fenomenologi memfokuskan perhatianya terhadap pengalaman sadar seorang individu. Teori komunikasi yang masuk dalam tradisi fenomenologi berpandangan bahwa manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka, sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia, dan kami ingin mengkaitkan fenomena selfie sebagai tradisi fenomenologi.
Fenomena selfie ini terjadi tak lain karena semakin canggihnya teknologi. Jika dulu foto diri sendiri tidak memungkinkan karena tidak adanya teknologi yang mendukung, sekarang ada banyak gadget penunjang untuk selfie.

















DAFTAR PUSTAKA
- Materi teori komunikasi lanjutan tentang Fenomenologi/fotocopy
- m.detik.com/wolipop/read/2014/02/07/074842/2489885/852/fenomena-selfie-dan-alasan-aksi-foto-narsis-ini-begitu-digemari-
m.detik.com/inet/read/2014/01/03/155544/2457783/398/wanita-ini-diselamatkan-foto-selfie-mengerikan- m.inilah.com/read/detail/2124690/seorang-pria-tewas-gara-gara-foto-selfie-
m.okezone.com/read/2014/04/27/91/976543/ingin-hasil-selfie-terbaik-wanita-ini-operasi-plastik
- m.okezone.com/read/2014/07/25/55/1018036/foto-selfie-di-facebook-bikin-perempuan-ini-ditangkap
- m.detik.com/wolipop/read/2014/04/23/120539/2562934/234/wanita-ini-habiskan-rp-174-juta-untuk-terlihat-cantik-saat-foto-selfie

- m.inilah.com/read/detail/2116682/tragis-abg-ini-tewas-akibat-selfie















1 komentar:

  1. Caesars Completes $330 Million Sports Betting - JTM Hub
    Caesars Sportsbook, which is one 제천 출장샵 of the 성남 출장샵 more traditional online sports betting brands, 군산 출장샵 is 제주도 출장마사지 rolling out a $330 million sports wagering 서귀포 출장안마

    BalasHapus