TRADISI FENOMENOLOGI
SERTA
FENOMENA SELFIE DI MASYARAKAT
DISUSUN OLEH
NAMA: DEVITA SARI SINAGA (13 853 0002)
SUGIANTO (13 853 0007)
TOGAR PARLINDUNGAN (13 853 0032)
SUGIANTO (13 853 0007)
TOGAR PARLINDUNGAN (13 853 0032)
FAK/PRODI : FISIP/ILMU KOMUNIKASI
MATA KULIAH : TEORI KOMUNIKASI LANJUTAN
DOSEN PEMBIMBING : Dra. Hj. NINA SITI S. SIREGAR, MSI
TA : 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah
berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk
Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta
hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah dengan judul “TRADISI FENOMENOLOGI SERTA FENOMENA SELFIE DI MASYARAKAT”
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari
berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar
penulis dan terima kasih kepada Ibu Dra. Hj. Nina Siti S. Siregar, MSI yang telah
memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah
semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit
kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari
kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat
lebih baik lagi.
Akhir
kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Medan,
Januari 2015
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Tradisi fenomenologi merupakan
tradisi yang cukup menarik untuk dibahas , fenomenologi boleh dikatakan
menolak teori.
Fenomenologi sedikit alergi teori. Pendekatan ini lebih menekankan rasionalisme dan realitas budaya yang ada.
Hal ini sejalan dengan penelitian etnografi
yang menitikberatkan pandangan warga setempat. Realitas dipandang lebih penting dan dominan dibanding teori-teori. Fenomenologi
menjadikan pengalaman sebenarnya sebagai data
utama dalam memahami realitas. Apa yang dapat diketahui seseorang adalah
apa yang dialaminya.
Fenomena
yang terjadi saat ini melanda penggemar situs jejaring sosial
Instagram ,setahun belakangan ini pasti akrab dengan hashtag bertuliskan selfie
bukan hanya penggemar instragaram saja, bahkan penggemar fb dan twitter mulai dari orang biasa hingga selebriti
ternama, semua 'latah' berfoto selfie. Begitu populernya selfie sampai-sampai
Kamus Bahasa Inggris Oxford menobatkan kata tersebut sebagai kata yang paling
banyak dicari pada November 2013.
Bagi
Anda yang belum tahu, selfie merupakan gaya foto yang menampilkan diri sendiri
entah itu wajah, seluruh tubuh atau hanya bagian tertentu dari tubuh. Foto
selfie ini dilakukan oleh diri sendiri tanpa meminta bantuan orang lain untuk
memotret Anda. Saat melakukannya, si pelaku selfie akan memegang ponsel
berkamera atau kamera dengan salah satu tangannya dan mengarahkan lensa ke
bagian yang ingin difoto.
B.
Rumusan
masalah
Dari
latar belakang di atas kami, rumusan masalah yang ingin kami paparkan di dalam
makalah ini sebagai berikiu:
1. Pengertian
Tradisi Fenomenologi dan Perspektif Fenomenologi
2. Asal
mula Selfie
3. Perkembangan
Selfie
4. Akibat
dari Selfie
C.
Tujuan
penulisan makalah
Makalah
ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah “ Teori Komunikasi lanjutan,
selain itu makalah ini juga memberikan pengetahuan kepada mahasiswa/masyarakat
tentang tradisi fenomenologi dan fenomena selfie di masyarakat.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. FENOMENOLOGI
Tradisi
fenomenologi memfokuskan perhatianya terhadap pengalaman sadar seorang
individu. Teori komunikasi yang masuk dalam tradisi fenomenologi berpandangan
bahwa manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka, sehingga
mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung
dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada
persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung teori
ini berpandangan bahwa cerita atau pengalaman indivvidu adalah lebih penting
dan memiliki otoritas lebih besar daripada hipotesa penelitian sekalipun.
Kata fenomenologi
berasal dari kata phenomenon yang berarti kemunculan suatu objek, peristiwa
atau kondisi dalam persepsi seorang individu. Fenomenologi menggunakan
pengalaman secara langsung untuk memahami dunia. Orang mengetahui pengalaman
atau peristiwa dengan cara mengujinya secara sadar melalui perasaan dan
persepsi yang dimiliki orang yang bersangkutan
Fenomenologi menjadikan
pengalaman sebenarnya sebagai data utama
dalam memahami realitas. Apa yang dapat diketahui seseorang adalah apa yang
dialaminya. Stanley Deets menemukakan tiga prinsip dasar fenomenolgi :
1.
Pengetahuan adalah kesadaran
Pengetahuan
tidak disimpulkan dari pengalaman namun ditemukan langsung dari pengalaman
sadar.
2.
Makna dari sesuatu terdiri atas potensi
sesuatu itu pada hidup seseorang
Dengan kata lain, bagaimana anda memandang suatu objek bergantung pada maknaobjek itu bagi anda.
Dengan kata lain, bagaimana anda memandang suatu objek bergantung pada maknaobjek itu bagi anda.
3.
Bahasa adalah “kendaraan makna”
Kita
mendapatkan pengalaman melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan
menjelaskan dunia kita.
Proses
interprestasi merupakan hal yang sangat penting dan sentral dalam fenomenologi.
Interprstasi adalah proses aktif pemberian makna dari suatu pengalaman. Pada
tradisi semiotika, Interpretasi merupkan hal yang terpisah dari realis, namun
dalam fenomenologi, interpretasi merupakan realis bagi seorang individu. Anda
tidak akan dapat memisahkan realis dari interpretasi. Interpretasi adalah
proses aktif dalam pikiran, yaitu suatu tindakan kreatif dalam memperjelas pengalam
personal seseorang. Menurut pemikiran fenomenologi orang yang melakukan
interpretasi , mengalami suatu peristiwa atau situasi dan ia akan memberikan
makna kepada setiap peristiwa atau situasi yang dialaminya.
Kondisi ini akan berlangsung terus menerus (bolak-balik)
antara pengalaman dan pemberian makna. Setiap pengalam baru akan memberikan
pengalaman baru baginya. Kita ambil contoh ketika seseorang pernah di gigit se ekor
kucing ketika kecil, pengalam tersebut memberikan makna bahwa kucing itu jahat
dan menyeramkan. Tetapi perlahan makna itu akan berubah ketika dia beranjak
dewasa dikarenkan dia diberi oleh oleh orang tuanya kucing yang lucu dan
menggemaskan. Interprestasi itu akan terus berubah sepanjang hidupnya seiring
dengan setiap pengalaman yang ditemuinya.
Perspektif Fenomenologi
Jika positivisme amat gila terhadap penyusunan teori, fenomenologi boleh
dikatakan menolak teori. Fenomenologi sedikit alergi teori. Pendekatan
ini lebih menekankan rasionalisme dan
realitas budaya yang ada. Hal ini sejalan dengan penelitian etnografi yang menitikberatkan
pandangan warga setempat. Realitas
dipandang lebih penting dan dominan dibanding teori-teori melulu.
Fenomenologi berusaha memahami
budaya lewat pandangan pemilik budaya atau pelakunya. Menurut paham
fenomenologi, ilmu bukanlah values free, bebas nilai dari apa pun, melainkan values bound, memiliki hubungan dengan nilai.
Aksioma dasar fenomenologi adalah:
(a) kenyataan ada
dalam diri manusia baik sebagai indiividu maupun kelompok selalu bersifat
majemuk atau ganda yang tersusun secara kompleks, dengan demikian hanya bisa
diteliti secara holistik dan tidak terlepas-lepas; (b) hubungan antara
peneliti dan subyek inkuiri saling
mempengaruhi, keduanya sulit dipisahkan; (c) lebih ke arah pada kasus-kasus,
bukan untuk menggeneralisasi hasil penelitian; (d) sulit membedakan sebab dan akibat, karena situasi berlangsung secara
simultan; (e) inkuiri terikat
nilai, bukan values free.
Dalam pandangan Natanton (Mulyana,
2002:59) fenomenologi merupakan istilah generik yang merujuk kepada semua
pandangan ilmu sosial yang menganggap bahwa kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami
tindakan sosial. Tentu saja, dalam kaitannya dengan penelitian budaya
pun pandangan subjektif informan sangat diperlukan. Subjektif akan menjadi
sahih apabila ada proses intersubjektif antara peneliti budaya dengan informan.
Wawasan utama fenomenologi adalah
“pengertian dan penjelasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala
realitas itu sendiri” (Aminuddin, 1990:108). Dalam perkembangannya,
fenomenologi memang ada beberapa macam, antara lain: (a) fenomenologi Edidetik dalam linguistik, (b)
fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan
pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberadaan, penggambaran gejala
(refleksi), (c) fenomenologi transendental, dan (d) fenomenologi eksistnsial.
Bagi fenomenologi transendental,
keberadaan realitas sebagai “objek” secara tegas ditekankan. Kesadaran aktif
dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu gejala amat
penting. Bagi fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya
semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi
individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran.
Dalam penelitian budaya,
perkembangan pendekatan fenomenologi tidak dipengaruhi secara langsung oleh
filsafat fenomenologi, tetapi oleh perkembangan dalam pendefinisian konsep
kebudayaan. Dalam hal ini, fenomenolog Edmun Husserl (Muhadjir, 1998:12-13)
menyatakan bahwa obyek ilmu itu tidak terbatas pada yang empirik (sensual),
melainkan mencakup fenomena yang tidak lain terdiri dari persepsi, pemikiran, kemauan, dan keyakinan
subyek yang menuntut pendekatan holistik, mendudukkan obyek penelitian
dalam suatu kontsruksi ganda, melihat obyeknya dalam suatu konteks natural, dan
bukan parsial. Karena itu dalam fenomenologi lebih menggunakan tata pikir logik
daripada sekedar linier kausal.
Tujuan penelitian fenomenologi budaya adalah ke arah membangun ilmu ideografik budaya itu
sendiri.
Metode kualitatif fenomenologi
berlandaskan pada empat kebenaran, yaitu kebenaran empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik
etik, dan kebenaran empirik transenden. Atas dasar cara mencapai
kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan antara subyek peneliti dengan
pendukung obyek penelitian.
Keterlibatan subyek peneliti di
lapangan dan penghayatan fenomena yang dialami menjadi salah satu ciri utama.
Hal tersebut juga seperti dikatakan Moleong (1988:7-8) bahwa pendekatan
fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap
orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu.
Peneliti fenomenologi tidak
berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang
diteliti. Maka dari itu, inkuiri
dimulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu
yang diteliti. Yang ditekankan adalah aspek subyek dari perilaku orang.
Mereka berusaha untuk masuk ke dunia
konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka
mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar
peristiwa dalam kehidupannya seharihari. Makhluk hidup tersedia pelbagai cara
untuk menginterpretasikam pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan
bahwa pengertian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan. Yang ditekankan
oleh kaum fenomenologis ialah aspek subyektif dari perilaku budaya. Mereka
berusaha masuk ke dalam dunia subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga
peneliti mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian dikembangkan dalam hidup
sehari-hari. Subyek penelitian dipercaya memiliki kemampuan untuk menafsirkan
pengalamannya melalui interaksi. Peneliti fenomenologis tidak menggarap data
secara mentah. Peneliti cukup arif dengan cara memberikan “tekanan” pada subyek
untuk memaknai tindak budayanya, tanpa mengabaikan realitas.
Hal tersebut dapat dipahami, karena
menurut Phillipson (Walsh,1972:121) istilah fenomena itu berkaitan dengan suatu
persepsi yaitu kesadaran. Fenomenologi akan berupaya menggambarkan fenomena kesadaran dan bagaimana fenomena itu
tersusun. Dengan adanya kesadaran ini, tidak mengherankan jika pemerhati
kebudayaan dan pelaku budaya juga memiliki kesadaran tertentu terhadap yang
mereka alami. Pengalaman yang dipengaruhi oleh kesadaran itu, pada saatnya akan
memunculkan permasalahan baru dan di antaranya akan terkait dengan ihwal seluk
beluk kebudayaan itu sendiri.
Akibat dari tumbuh kembangnya
kesadaran tersebut, bukan tidak mungkin jika para ahli peneliti budaya
fenomenologi mulai dihadapkan pada sejumlah permasalahan kebudayaan. Pada
dasarnya, ada tiga permasalahan pokok
ketika orang akan melukiskan kebudayaan yaitu: (1) mengenai
ketidaksamaan data etnografi yang disebabkan oleh perbedaan minat di kalangan
ahli peneliti budaya, (2) masalah sifat data itu sendiri, artinya seberapa jauh
data tersebut dapat diperbandingkan atau seberapa jauh data tersebut
benar-benar dapat melukiskan gejala yang sama dari masyarakat yang berbeda, dan
(3) menyangkut masalah klasifikasi data yang di antara para ahli masih sering
berbeda kriterianya.
Berdasarkan ketiga hal itu, dalam
studi fenomenologi terutama sebagai upaya memahami sugesti Malinovski tentang
“to grasp the native’s point of view, his relation to life to realize his
vision of his world”, Ahimsa-Putra (1985:106-109) menawarkan pendekatan etnosains
sebagai salah satu alternatif.
Pendekatan ini dipandang lebih
fenomenologis karena dengan menerapkan model linguistik yang dikenal dengan
pelukisan kebudayaan secara etik dan emik, pemaknaan kebudayaan menjadi lebih
lengkap. Dengan cara ini ini pendefinisian kebudayaan merupakan akumulasi dari sistem pengetahuan atau sistem ide, dalam
istilah “makna” yang diberikan oleh pendukung kebudayaan pun turut
diperhitungkan.
Implikasi dari pendekatan tersebut,
penelitian budaya secara fenomenologi dapat digolongkan menjadi tiga yakni:
Pertama budaya dipelajari oleh mereka yang berpendapat bahwa kebudayaan merupakan
“forms of things that people have mind”,
yang dalam hal ini ditafsirkan sebagai model-model untuk mengklasifikasikan
lingkungan atau situasi sosial yang dihadapi.
Kedua, mereka yang mengarahkan
perhatiannya pada bidang rule atau aturan-aturan. Mereka berpijak pada definisi
pertama yaitu kebudayaan sebagai hal yang harus diketahui seseorang agar dapat
mewujudkan tingkah laku (bertindak) menurut cara yang dapat diterima oleh warga
masyarakat itu berada. Persoalan ketegorisasi masih diperhatikan, khususnya kategorisasi sosial yaitu untuk
mengkategorisasikan interaksi sosial.
Tujuan utamanya adalah mencari prinsip klasifikasi, seperti
halnya klasifikasi dalam undha
usuk bahasa Jawa, yaitu kowe, sapeyan, panjenengan.
Ketiga, ahli peneliti budaya masih
menggunakan definisi yang kedua, yaitu kebudayaan sebagai alat atau sarana yang
dipakai untuk “perceiving” dan “dealing with circumstances”, yang berarti alat
untuk menafsirkan berbagai macam gejala yang ditemui. Dalam hal ini, para ahli
peneliti budaya beranggapan bahwa tindakan manusia mempunyai berbagai macam
makna bagi pelakunya serta bagi orang lain. Untuk menjelaskan tingkah laku
manusia makna tersebut harus diungkapkan. Tanpa memperhitungkankan makna ini
maka peneliti tidak akan mampu mengungkap hakikat manusia yang sebenarnya.
Penekanan si peneliti kemudian mencari tema budaya.
Dari kaca pandang fenomenologis yang
dipengaruhi oleh pendefinisian kebudayaan itu, pada gilirannya kebudayaan
menjadi lebih kompleks. Kebudayaan menjadi sangat `tergantung’ siapa yang
memandang. Jika warga setempat paham terhadap yang mereka lakukan, tentu
pendefinisian akan berlainan dengan warga yang samar-samar terhadap budayanya.
Kedua pandangan yang berbeda ini pun dalam perspektif fenomenologi harus tetap
dihargai. Oleh karena perbedaan
pendapat adalah khasanah fenomena budaya itu sendiri.
Kehadiran Jackson (1996) dalam
fenomenologi telah menghasilkan arahan-arahan baru dalam penelitian budaya secara etnografi.
Arahan-arahan tersebut oleh Jackson ditunjukkan secara samar, berupa kritik
dari sisi peneliti budaya terhadap pendekatan fenomenologi. la dengan tajam mengritik pandangan
empirisme radikal William James, naturalis John Dewey, dan fenomenolog MarleauPcenty.
Dari ulasannya, akan ditemukan beberapa arahan baru bidang kajian peneliti
budaya fenomenologi dan penulisan etnografinya.
Dalam pengkajian dapat dikemukakan
arahan baru fenomenologi bagi penelitian budaya sebagai berikut: Pertama,
adanya kajian terhadap penyakit. Kajian ini lebih menekankan fenomena yang
ditunjukkan oleh pasien daripada yang dikonsepsikan oleh ilmu kesehatan. Hal
ini berarti bahwa kajian yang dilakukan telah ke arah fenomenologi karena telah
mempertimbangkan perilaku dan makna yang ditunjukkan pasien sebagai subjek
penelitian.
Dalam kaitan ini, Arthur Kleinman
menggunakan istilah “dunia moral lokal”
untuk menunjukkan latar belakang ekonomi, sosial, dan politik dalam kaitannya
dengan penyakit pasien. Latar belakang ini selanjutnya dihubungkan dengan
pengalaman pasien sehingga akan terpahami realita moral khusus yang ada di
dalamnya. Pengkajian lebih jauh lagi juga dikaitkan dengan latar belakang
budaya pasien. Pandangan semacam inilah yang `mungkin’ dikenal dengan peneliti
budaya kesehatan.
Kedua, adanya kajian peneliti budaya
fenomenologi yang tetap memperhatikan “dunia moral lokal” terhadap masalah
“ekologi”. Seperti halnya ditunjukkan oleh Sartre, seorang eksistensialis yang
mulai menekankan pengkajian terhadap masalah situasi dan lingkungan. Situasi
dan lingkungan adalah bagian dari hidup manusia yang akan membentuk dan
dibentuk oleh budaya setempat dan atau oleh budaya lain. Pandangan terhadap
manusia yang mulai sadar terhadap situasi dan lingkungan ini, pada gilirannya
menjadi perhatian ekologi budaya yang pernah dicetuskan oleh Julian Steward
(Bennett, 1971:24).
Hal serupa sebagaimana pernah
dilakukan penelitian oleh Rene Davisch terhadap pelaku pemujaan suku Yaka di Zaire. la berhasil mengungkap bagaimana
kiasan merupakan jaringan hubungan dunia kehidupan. Bagi orang Yaka, lingkaran
kehidupan menurut kiasannya dipadukan dengan irama musim dan matahari.
Pengkajian semacam ini, dapat mengaitkan hubungan ekologis dengan faktor
kultural setempat. Peneliti tentunya akan mengaitkan pandangan masyarakat lokal
sebagai akumulasi interaksi di antara mereka.
Permasalahan semacam ini, diakui
atau tidak lalu menarik perhatian para ahli peneliti budaya yang menekankan
pada budaya ekologi. Misalkan, manusia (peneliti) mulai sadar mengapa
masyarakat tertentu ada yang memanfaatkan limbah menjadi hal yang istimewa.
Ketiga, arahan baru terhadap
pengkajian peneliti budaya fisik. Sebagaimana ditunjukkan oleh Merleau-Ponty
bahwa subyektivitas adalah merupakan kehidupan fisik di dunia, bahkan sikap
simpati dan empati merupakan sifat dasar kehidupan fisik pula: Karena itu
pemahaman fenomenologi perlu mendasarkan kehidupan fisik ini karena fisik
merupakan aspek primordial dari subyektivitas manusia sebagai makhluk sosial.
Keempat, arahan baru terhadap
penelitian historiografi, yaitu memandang fenomena dalam kaitannya kehidupan
dan sejarah. Hal ini seperti dicontohkan Jackson, yaitu penelitian terhadap
sejarah petani di India.
Dalam bidang penulisan etnografi,
dapat diketengahkan arahan baru fenomenologis sebagai berikut: Pertama,
arahan-arahan baru dalam penulisan etnografi. Seperti halnya yang diungkapkan
Abu Lughod, etnografer dapat menyusun kesadaran `subyektivitas’ yang
selanjutnya diarahkan pada penulisan biografi individu. Etnografi individu ini
digambarkan melalui ceritera seorang individu tentang keunikan kehidupannya.
Arahan baru dalam penulisan
etnografi secara `naratif. Sebagaimana ditunjukkan Jurgen Hubermas bahwa dunia
kehidupan sehari-hari adalah dunia wacana, permainan bahasa, dan aktivitas
komunikasi. Kenyataan ini sarat dengan penulisan ceritera naratif yang disertai
dialog-dialog hidup. Kemungkinan besar etnografi semacam ini akan lahir seperti
halnya novel.
Dari arah-arahan baru fenomenologi
tersebut, penelitian budaya semakin menunjukkan kecerahan. Penelitian budaya
dapat memanfaatkan- pendekatan
fenomenologis, terutama untuk model penelitian etnografi. Dari
pendekatan tersebut peneliti budaya akan mampu menampilkan realitas dan keaslian budaya yang
diteliti. Campur tangan peneliti terhadap konsep-konsep budaya akan relatif
kecil, sehingga ilmu budaya pada gilirannya akan semakin berkembang. Dalam
penjelasan Phillipson (Walsh, 1972:135-137) tampak bahwa ada dua paham
metodologi fenomenologi, pertama fenomenologi
yang berusaha untuk menjelaskan bagaimana fenomena itu tersusun. Kedua, fenomenologi yang berusaha memahami fenomena
sebagai obyek kesadaran.
Ketika fenomenologi mulai
menjelaskan bagaimana fenomena itu tersusun, ini berarti masih fenomenologi
murni. Secara alamiah peneliti budaya akan menanyakan persepsi subyek budaya
terhadap apa yang dialaminya. Dari interaksi subyek budaya itu, baik kesadaran
subyek sebagai kesadaran makna dan fungsi dari suatu fenomena itu merupakan
tonggak terjadinya penafsiran.
Dari paham kedua tersebut tampak
bahwa dalam fenomenologi pun telah terjadi penafsiran terhadap fenomena:
Fenomena budaya tidak lagi dijelaskan sebagaimana adanya, melainkan telah melalui
penafsiran. Baik penafsiran yang dilakukan oleh partisipan maupun peneliti
ketika memberikan umpan balik, tetap telah terjadi sebuah pemahaman.
Dalam kaitan ini, kesadaran
partisipan maupun peneliti telah bermain di dalamnya, sehingga memungkinkan terjadinya
pemahaman yang lebih baik. Terlebih lagi Goodenough (Geertz (1980:13)
menyatakan bahwa kebudayaan (ditempatkan) dalam pikiran-pikiran dan hati
manusia. Pemikiran dan hati ini hanya akan dapat nampak dalam suatu tindakan.
Tindakan inilah yang dapat dilihat sebagai fenomena yang jelas. Pada saat
peneliti dan partisipan berhadapan dengan tindakan mau tidak. mau harus
memahaminya. Inilah yang kelak akan berkembang ke arah tumbuhnya tafsir kebudayaan.
Tradisi
Fenomenologi terbagi atas tiga:
1.
Fenomenologi Klasik
Edmund
Husrel adlah salah satu pemikir fenomenologi klasik. Husserl melalui buku yang
ditulis pada abad ke-20, berupaya mengembangkan suatu metode untuk menemukan
kebenaran melalui pengalaman langsung. Menurutnya orang harus berdisiplin dalam
menerima pengalaman itu. Dengan kata lain, pengalaman sadar individu adalah
jalan yang tepat untuk menemukan realitas. Hanya melalui “perhatian sadar”
kebenaran dapat kita ketahui. Untuk dapat melakukan hal itu kita harus
menyingkirkan bias yang ada pada diri kita. Kita harus meninggalkan berbagai
kategori berpikir dan kebiasaan kita melihat sesuatu agar dapat merasakan
pengalaman sebagaimana apa adanya. Melaui cara ini, berbagai objek di dunia
dapat hadir ke dalam kesadaran kita.
Pandangan
Husrel ini dinilai sangat objektif karena pandangan ini menyatakan bahwa dunia
dapat dirasakan atau dialami tanpa harus membawa serta bebagai kategori yang
dimiliki orang yang ingin mengetahui pengalaman itu, karena hal itu dapat
memepengaruhi proses merasakan pengalaman itu.
2.
Fenomenologi Persepsi
Tokoh
penting dalam tradisi ini adalah Maurice Merleau-Ponty yang pandanganya dianggap
mewakili gagasan mengenai fenomenologi persepsi
yang dinilai sebagi penolakan terhadapa pandangan objektif namaun sempit
dari Husrel. Menurut Ponty, manusia ialah mahluk yang memiliki kesatuan fisik
dan mental yang menciptakan makna
terhadap dunianya. Kita mengetahui sesuatu hanya melalui hubungan pibadi kita
dengan sesuatu itu. Sebagai manusia kita dipengaruhi oleh dunia luar atau
lingkungan kita, namun sebaliknya kita juga mempengaruhi dunia di sekitar kita
melalui bagaimana kita mengalami dunia. Menurut Ponty sesuatu itu ada karena
diketahui atau dikenali. Dengan demikian, suatu objek atau peristiwa itu ada
dalam suatu objek atau peristiwa ada dalam suatu proses timbale balik yaitu
hubungan diologis dimana suatu objek atau peristiwa mempengaruhi objek atau
peristiwa lainya.
3.
Fenomenologi Hermenetik
Tokoh
dibidang ini adalah Martin Heidegger yang dikenal dengan karyanya philosophical hermeneutics. Hal paling
penting bagi Heidegger adalah “pengalaman alami yang terjadi begitu saja ketika
orang hidup di dunia. Bagi Heidegger , realitas terhadap sesuatu tidak dapat
diketahui hanya melalui penggunaan bahasa dalam kehidupan setiap hari. Apa yang
alami adalah apa yang dialami bahasa dalam konteks “its is in words and language that first come into being and are” (dalam kata-kata dan bahasalah sesuatu itu
terwujud pertama kali dan ada)
Komunikasi
adalah kendaraan yang digunakan untuk menunjukan makna dari penaeahuan yang
diterima atau drrasakan. Pemikiran adalah hasil dari bicara karena makna itu
sendiri tercipta dari kata-kata. Ketika Anda berkomunikasi maka Anda tengah
mencoba cara baru dalam melihat dunia. Kita mendengarkan kata-kata yang
diucapkan seseorang setiap hari yang pada
akhirnya mempengaruhi kita secara terus-menerus terhadap setiap
peristiwa dan situasi yang kita hadapi. Dengan demikian pandangan ini yang
berupaya menghubungkan pengalaman dengan bahasa dan interaksi sosial menjadi
relavab dengan disiplin ilmu komunikasi.
B. Asal Mula Foto Selfie
Selfie
adalah sebuah jenis self-portrait foto, dimana biasanya diambil dengan kamera
digital genggam atau kamera ponsel. Selfies juga sering dikaitkan dengan
jejaring sosial, seperti Instagram. Orang-orang biasanya melakukan foto Selfie
dengan cara menggunakan kamera yang dipegang dengan lengan panjang atau di
hadapan cermin. Foto selfie biasanya juga menggukan ekpresi yang berlebihan di
hadapan camera.
Awal
Mula foto Selfie ditemukan oleh Robert Cornelius yang merupakan seorang
berkebangsaan Amerika yang juga seorang perintis dalam dunia fotografi. Dia
membuat sebuah ekspresi dirinya sendiri pada tahun 1839 dimana ini merupakan
salah satu dari foto seseorang yang pertama kali. Lalu karena proses fotonya
lambat, kemudian dia mengungkap lensa yang mengalami tembakan selama satu menit
atau lebih. Kemudian dia mengganti penutup lensa.
Debut
pertama Portabel kotak kamera Kodak Brownie dimulai pada tahun 1900 yang
menyebabkan teknik fotografi diri sendiri menjadi lebih luas . Kemudian metode
ini biasanya media cermin untuk menstabilkan kamera baik pada objek dekat atau
pada tripod saat framing melalui viewfinder di bagian atas kotak.
Seorang
wanita berkebangsaan Rusia bernama Anastasia Nikolaevna merupakan salah satu
remaja pertama yang mengambil foto dirinya sendiri dengan menggunakan cermin
untuk dikirim ke temannya pada tahun 1914 di saat usianya baru 13 tahun.
Kemudian di dalam surat yang menyertai fotonya itu, dia mengatakan "Saya
mengambil gambar diriku sendiri dengan melihat cermin. Hal itu sangat
mengagetkan dimana tangan saya gemetar."
Sebuah
konsep meng-upload foto diri sendiri ( sekarang dikenal sebagai super selfies )
ke internet, meski dengan kamera sekali pakai (bukan smartphone), ke halaman
Web pertama kali diciptakan oleh Australia pada September 2001, termasuk foto
yang diambil di akhir 1990-an ( ditangkap oleh Internet Archive pada bulan
April 2004 ) . Kemudian penggunaan awal Selfie dapat ditelusuri pada tahun 2002.
Dann ini pertama kalinya muncul di sebuah forum internet Australia ( ABC
online ) pada tanggal 13 September 2002.
C. Perkembangan Foto Selfie
Istilah
" Selfie " dibahas oleh seorang fotografer bernama Jim Krause pada
tahun 2005, walaupun foto bergenre Selfie sudah meluas mendahului istilahnya.
Kemudian pada awal tahun 2000-an, sebelum Facebook menjadi jaringan sosial
online yang dominan, foto diri sendiri sering terjadi di MySpace . Tapi seorang
penulis bernama Kate Losse menceritakan bahwa antara tahun 2006 dan 2009 (
ketika Facebook menjadi lebih populer daripada MySpace ) foto diri sendiri
sering diambil di depan cermin kamar mandi. Dan ini menjadi indikasi buruk bagi
pengguna jejaring sosial Facebook baru.
Lalu
pada tahun 2009 dalam gambar hosting dan hosting video situs Flickr, pengguna
Flickr menggunakan ' selfies ' untuk menggambarkan bentuk foto dirinya sendiri
yang diposting oleh kebanyakan gadis-gadis remaja.
Selfies
kemudian menjadi populer di berbagai tempat dari waktu ke waktu. Pada akhir tahun
2012 majalah Time membuat Selfie menjadi salah satu "top 10
buzzwords". Menurut survei tahun 2013, dua pertiga dari wanita Australia
berusia 18-35 tahun, berfoto selfies dengan tujuan yang paling umum untuk
posting di akun Facebook.
Lalu
pada tahun 2013, kata " Selfie " telah menjadi hal yang biasa untuk
dipantau dan dimasukkan dalam online Oxford English Dictionary. Pada bulan
November 2013, kata " Selfie " diumumkan sebagai "Word Of The
Year" oleh Oxford English Dictionary, diman kata tersebut berasal dari
Australia
Perkembangan zaman dan kemajuan
teknologi diabad modern ini tidak dipungkiri memiliki berbagai macam pengaruh
terhadap kehidupan manusia, terlebih yang hidup dikota-kota besar. Berbagai
macam pengaruh itu, baik yang positif maupun negatif hampir menjadi hal lumrah
dalam keseharian, terlebih jika itu sudah menjadi fenomena dan gaya hidup.
Salah satu pengaruh dari
perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang sedang menjadi fenomena adalah
selfie. Begitu banyak orang yang tak mau ketinggalan melakukan hal yang satu
ini, dan kini seolah menjadi “rutinitas” bagi sebagian orang tanpa mengenal
batasan usia, status, pekerjaan dan lainnya. Entah berapa ribu atau bahkan juta
foto selfie yang diunggah keberbagai jejaring sosial ataupun aplikasi smartphone
setiap harinya. Itu menunjukkan bahwa fenomena selfie kini telah menjadi hal
“wajib”, terutama untuk mereka yang narsis.
Dari kacamata psikologi, fenomena
selfie dianggap psikologi konsumen dari adanya supply dan demand. Seperti
pernyataan dari Psikolog Kasandra Putranto jika selfie merupakan hal supply dan
demand. Demand ketika ada seorang yang ingin menampilkan gambar dirinya sendiri
sedangkan itu didukung dengan adanya (supply) kecanggihan dari gadget masa
kini. Sedangkan menurut Prof. Sherry Turkle dari Massachusetts Institute of
Technology, selfi adalah seperti foto pada umumnya yang berfungsi untuk
mengabadikan sebuat momen yang kemudian diperlihatkan pada orang lain.
Pengalaman Prof. Turkle dalam
memperlajari hubungan antara manusia dengan mobile technology selama 15 tahun
menyimpulkan bahwa orang-orang tidak lagi merasa menjadi dirinya sendiri tanpa
berbagi pemikiran dan perasaan, sekalipun hal itu belum jelas bagi mereka
sendiri. Ia pun mengatakan selfie mengakibatkan banyak orang mengabaikan hal
yang sedang terjadi disekitarnya karena lebih mementingkan mendokumentasikan
momen tersebut tanpa ingin melewatkannya.
Melihat dari sudut pandang psikologi
tentang selfie dan akibatnya, rasa-rasanya sangat nyata hal-hal tersebut
terjadi dikehidupan sehari-hari. Lihat saja kecanggihan gadget saat ini, begitu
sangat mendukung seseorang untuk ber-selfie-ria. Terlebih dengan aksesoris
pendukungnya, orang-orang sebelumnya pemalu pun kini seolah tertarik untuk
selfie. Pun begitu dengan berbagai macam akibat dari selfie, baik itu yang
postitif, mengejutkan sampai yang negatif sudah banyak terjadi.
D. Akibat
dari Foto Selfie
Akibat dari selfie yang dimuat
dibeberapa berita terutama media online memang cukup mengejutkan. Tidak
disangka selfie yang terlihat sepele tapi dapat membawa banyak hal yang serius.
Diantara beberapa akibat selfie yang membawa akibat serius diantaranya seperti
yang terjadi pada Susann Stacy yang selamat dari siksaan suaminya karena
memposting photo wajahnya yang berlumuran darah ke facebook.
Wanita Amerika Serikat yang tinggal
di Kentucky tersebut mengaku dipukuli suaminya lalu dikurung. Ia pun tidak bisa
meminta pertolongan, namun beruntung ia menemukan sinyal WiFi lalu memoto
wajahnya yang berlumuran darah dan diunggah ke facebook dengan dituliskan “help
please, anyone”. Salah satu temannya yang melihat hal tersebut langsung
menghubungi polisi dan Susaan pun dapat diselamatkan.
Jika Susann dapat selamat karena
selfie-nya, lain lagi dengan beberapa orang ini. Mereka harus meregang nyawa
akibat keasyikan melakukan selfie. Seperti seorang siswi dari Rizal High
School, Pasig City, Filipina yang tewas terjatuh dari tangga sekolahnya saat
ber-selfie dijam istirahat. Menurut keterangan dari Inspektur Senior Kepolisian
Pasig City, Mario Razisa mengatakan, korban dan seorang temannya asyik
ber-selfie dengan berbagai macam gaya termasuk ditangga sekolahnya. Diduga
korban kehilangan keseimbangan dan terjatuh hingga mengakibatkan luka parah,
memar, patah tulang rusuk hingga mengenai ginjalnya. Nyawa siswi malang
tersebut pun tidak dapat diselamatkan. Masyarakat Filipina memang sangat
menggandrungi selfie. Bahkan majalah Time pernah menjuluki Pasig City dan
Makati di Filipina sebagai “kota paling selfie didunia” karena banyaknya foto
selfie yang diunggah dari dua kota tersebut.
Kehilangan nyawa karena selfie juga
menimpa pada seorang remaja 21 tahun di Meksiko. Oscar Otero Aguilar, remaja
yang saat itu sedang minum miras bersama teman-temannya melakukan selfie dengan
sebuh pistol. Pistol yang ternyata berisi peluru tiba-tiba menembak dirinya
sendiri saat berpose dengan menodongkan pistol kearah dirinya sendiri.
Akibat lain dari selfie yang cukup
tidak diduga adalah tertangkapnya seorang pencuri. Kamera cctv milik Mortie’s
Boutique di West Frankfort, Illinois merekam tindak pencurian beberapa baju
oleh seorang perempuan. Setelah kejadian tersebut pemilik butik membuat
postingan beberapa gambar dan tulisan tentang pencurian tersebut di facebook.
Lalu dia mendapat informasi tentang salah satu gaun yang dicuri dengan bukti
foto selfie seorang perempuan menggunakan gaun tersebut. Ia pun melaporkan akun
tersebut kepada polisi, dan polisi berhasil menangkap pemilik akun yang
diketahui bernama Saxton dengan barang curiannya senilai kurang dari USD 300.
Hal tersebut bukanlah yang pertama.
Sebelumnya, Depree Johnson berusia 19 tahun ditangkap setelah memposting foto
dirinya bersama senjata api, uang curian dan obat-obat pada Desember 2013.
Selain beberapa contoh akibat selfie
diatas, ada pula akibat selfie yang dianggap cukup aneh atau berlebihan.
Seperti yang dilakukan oleh Triana Lavey 38 tahun. Wanita Los Angeles, AS ini
rela merogoh kocek hingga USD 15.000 atau setara dengan RP 174.000.000 untuk
berbagai implan oprasi plastik pada wajahnya agar mendapatkan hasil selfie idamannya.
Memang keinginan tampil sempurna saat selfie seperti menjadi keharusan. Dapat
dilihat dengan menjamurnya berbagai aplikasi untuk meng-edit foto agar terlihat
indah. Camera 360 salah satunya dan yang paling banyak digandrungi pecinta
selfie saat ini.
Apapun alasanya, beberapa akibat
selfie yang “memaksa” beberapa orang mendapatkan hal negatif bahkan tidak
inginkan, ataupun melakukan berbagai hal yang sebenarnya tidak perlu
menunjukkan gejala psikologis yang tidak sehat dari para pelakunya. Bahkan Asosiasi
Psikiater Amerika sempat mengeluarkan pernyataan jika keinginan yang kuat untuk
tampil sempurna dalam selfie dan para selfitis (keranjingan selfie) adalah
bagian dari gangguan kejiwaan.
Kejadian
konyol gara-gara foto selfie juga terjadi di Inggris. Seorang remaja tanggung
yang bernama Danny Bowman merasa depresi lantaran tidak bisa mendapatkan pose
selfie yang menurutnya bagus. Akibat depresinya, ia bahkan telah kehilangan
segalanya bahkan pernah mencoba bunuh diri.
Danny Bowman, remaja
Inggris yang berusia 19 tahun ini, memang sangat terobsesi dengan foto selfie.
Tak mengherankan kalau remaja yang tinggal di Newcastle itu sering menghabiskan
waktunya untuk nyelfie alias mengambil gambar selfie dengan menggunakan ponsel
iPhone miliknya, ia menghabiskan waktu 10 jam sehari hanya untuk mengambil foto
diri dalam berbagai pose, dan telah menghasilkan lebih dari 200 foto selfie.
Dari ratusan foto
dalam berbagai pose selfie itu, tidak ada satu pun yang dianggapnya bagus.
Akhirnya, Danny mulai frustrasi dan lebih sering mengurung diri di rumah,
tanpa sekalipun mau keluar entah untuk bermain atau sekolah. Akibatnya, berat
badan Danny turun 13 kilogram, dan yang lebih buruk lagi, ia dikeluarkan dari
sekolah dan juga kehilangan banyak teman. Karena putus asa dan merasa gagal, ia
pernah mencoba untuk bunuh diri dengan minum obat-obatan hingga overdosis.
Beruntung sang ibu, Penny, menemukan dan membawanya ke rumah sakit.
Kesukaan Danny dengan
foto selife sebenarnya dimulai sejak ia masih berusia 15 tahun. Ia mulai
memposting foto-foto selfienya dalam profil Facebook, dan mulai kecanduan
selfie setelah impiannya menjadi seorang model buyar ketika
dia ditolak dalam sebuah sesi casting atau audisi model pada
tahun 2011. Seperti dilansir The Mirror (24/3), Danny mengakui kalau
ia akan mengambil foto selfie dalam kesempatan apa pun. Bahkan ia akan
mengambil 10 foto selfie sebelum cuci muka, 10 foto setelah mandi dan 10 foto
setelah berdandan.
Selfie bisa jadi
ajang narsis untuk beberapa orang. Tetapi, bagi orang dengan gangguan jiwa
(ODGJ) body dysmorphic disorder, selfie bisa jadi media mereka untuk
'mengevaluasi' penampilannya. Jika tak puas dengan penampilannya, mereka bisa
saja depresi sampai bunuh diri. "Selfie bisa jadi media bagi orang untuk
melihat penampilannya. Dampaknya, si orang ini bisa merasa dia jelek atau tidak
sehat hingga timbul suatu kekecewaan dan memicu gangguan jiwa misalnya body
dysmorphic disorder.
Menurut dr Danardi,
jika hanya karena selfie seseorang merasa kecewa dengan fisiknya hingga ingin
bunuh terdapat dua sebab yakni depresi dan merasa kehilangan masa depan atau
ada halusinasi bisikan baiknya bunuh diri. dr Danardi menegaskan terlalu fokus
pada kesempurnaan fisik memang bisa menimbulkan gangguan body dysmorphic
disorder yakni tidak pernah merasa puas dengan dirinya sendiri. "Orang ini
merasa tubuhnya tidak sempurna, bisa dikatakan hampir memiliki delusi bahwa
matanya kurang simetris, pipinya kurang berisi, sehingga muncul perasaan tidak
pernah puas, kecewa, dan minder.
Selain itu, pada
orang dengan BDD mereka akan rela melakukan berbagai bentuk operasi plastik
untuk menyempurnakan penampilannya. Seperti yang terjadi pada Danny Bowman (19)
asal Newcastle. Ia akan menghabiskan waktu sepuluh jam untuk mengambil sampai
200 foto di iPhone-nya.
Selama enam bulan ia
tak pernah meninggalkan rumah, putus sekolah, dan menurunkan bobot sampai 12 kg
demi terlihat lebih menarik di kamera. Hingga suatu hari, karena terlalu
frustasi gagal mendapat foto selfie yang sempurna, Danny nekat menenggak obat
yang membuatnya overdosis. Sampai saat ini, penyebab BDD memang belum diketahui
pasti. Tetapi, beberapa ilmuwan mengatakan gangguan mental ini berhubungan
dengan masalah pada ukuran dan fungsi salah satu area otak yang berkaitan
dengan penghargaan tubuh. Untuk menangani gangguan ini, bisa dilakukan
pemberian obat atau psikoterapi berupa terapi kognitif terkait pemikiran si
pasien tentang dirinya, juga terapi perilaku.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari
pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Tradisi fenomenologi memfokuskan
perhatianya terhadap pengalaman sadar seorang individu. Teori komunikasi yang
masuk dalam tradisi fenomenologi berpandangan bahwa manusia secara aktif
menginterpretasikan pengalaman mereka, sehingga mereka dapat memahami
lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan.
Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi
dari pengalaman subjektif manusia, dan kami ingin mengkaitkan fenomena selfie
sebagai tradisi fenomenologi.
Fenomena
selfie ini terjadi tak lain karena semakin canggihnya teknologi. Jika dulu foto
diri sendiri tidak memungkinkan karena tidak adanya teknologi yang mendukung,
sekarang ada banyak gadget penunjang untuk selfie.
DAFTAR
PUSTAKA
- Materi teori komunikasi lanjutan tentang
Fenomenologi/fotocopy
-
m.detik.com/wolipop/read/2014/02/07/074842/2489885/852/fenomena-selfie-dan-alasan-aksi-foto-narsis-ini-begitu-digemari-
m.detik.com/inet/read/2014/01/03/155544/2457783/398/wanita-ini-diselamatkan-foto-selfie-mengerikan-
m.inilah.com/read/detail/2124690/seorang-pria-tewas-gara-gara-foto-selfie-
m.okezone.com/read/2014/04/27/91/976543/ingin-hasil-selfie-terbaik-wanita-ini-operasi-plastik
-
m.okezone.com/read/2014/07/25/55/1018036/foto-selfie-di-facebook-bikin-perempuan-ini-ditangkap
- m.detik.com/wolipop/read/2014/04/23/120539/2562934/234/wanita-ini-habiskan-rp-174-juta-untuk-terlihat-cantik-saat-foto-selfie
-
m.inilah.com/read/detail/2116682/tragis-abg-ini-tewas-akibat-selfie

Caesars Completes $330 Million Sports Betting - JTM Hub
BalasHapusCaesars Sportsbook, which is one 제천 출장샵 of the 성남 출장샵 more traditional online sports betting brands, 군산 출장샵 is 제주도 출장마사지 rolling out a $330 million sports wagering 서귀포 출장안마